Antara organisasi, proyek, proposal TA, kuliah, ibadah, dan senang-senang.
sungguh ngga nyangka nulis postingan ini, dan entah apa yang sedang saya lakukan pada hidup saya. 5 bulan lagi, saya mahasiswa tingkat 5! hehehe…
Antara organisasi, proyek, proposal TA, kuliah, ibadah, dan senang-senang.
sungguh ngga nyangka nulis postingan ini, dan entah apa yang sedang saya lakukan pada hidup saya. 5 bulan lagi, saya mahasiswa tingkat 5! hehehe…
Well, you see, my blog does not reflect my current activity. it’s really just my great escape.
Udah setahun terakhir saya berkoar-koar mengenai sebuah hal:
“Gue pengen bisa bawa motor sendiri.“
Statement itu bukan atas dasar ingin terlihat keren, apalagi buat sok-sokan mandiri, bukan.
Kadang orang-orang menakut-nakuti dengan bilang, “Lo yakin?”
“Naik motor itu ngga semudah kelihatannya lho..”
“Bisa repot kalo ngurusin kendaraan sendiri..”, dll.
Saya ngga peduli.
Tekad saya itu muncul hanya karena satu alasan vital:
Saya ngga mau dibonceng laki-laki yang bukan mahram.
Saya rasa saya ngga perlu memberikan kuliah panjang lebar kenapa saya ngotot dengan alasan itu.
Jadi, kalopun harus bersusah-susah, akan saya perjuangkan. Harus meluangkan waktu untuk ke bengkel, berkali-kali hampir nyungsep, dinginnya angin bandung, beratnya motor, macetnya jalanan, menghadapi cuaca yang kurang bersahabat, dll.
Ini poin pertama dari doa saya.
Ya Allah, jika Engkau berkenan, selanjutnya adalah poin kedua, ketiga, dan keempat :)
in the state of missing my little cousins a little bit too much.

kaka (14). fara (13). me.
adel (6). zahra (11). fiza (6).
picture taken 2 weeks ago. bandung.
Fara, zahra & fiza tinggal di hk. Apakah mereka WNA? bukan. hehe.
Walaupun bahasa inggrisnya jago-jago, mereka original punya Indonesia kok. Hanya saja ayahnya (berarti oom saya) adalah pilot Indonesia yang tugas kerja di sana, sehingga bisa membawa 1 keluarga tinggal di hk: ayah ibu dan 4 orang anak. gaul pisanlah :)
Jadi, jarang-jaraaaang banget bisa ketemu sama bocah-bocah ini.
Yang tak-terlupakan:
Saat itu hujan berintensitas sedang tengah mengguyur pasteur, dan saya pake motor dari dago. Tak lama, akhirnya sampai di rumah tempat janjian. Susah-payah saya markir motor yang baru saya pakai 4 hari. Iya, itu belum ada seminggu sejak saya pertama kali belajar mengendarai motor. Hujan, sepeda motor, jas hujan, di depan rumah, jalan tanjakan, dan saya.
Kaka, Fara & Lala berlarian menyambut saya di teras rumah. “I’m gonna hug YOU!“, kata fara sambil loncat-loncatan, panik. Nampaknya mereka shock melihat saya kepayahan haha. “Aduuuh kakaaaaak!”, and then.. speechless :))))
Ketika di dalam rumah, baru saya ketemu Fiza. Dia duduk di anak tangga membelakangi saya, asik makan siang sama Adel. Saya colek bahunya dari belakang. Dia menoleh ke kanan, tersenyum, seketika tanpa berdiri dia langsung memeluk saya, lama :’)
“I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”
- Marilyn Monroe
Ini bukan cocoa. Yang kau kira manis, padahal aslinya pahit. Manisnya cocoa itu dari tebu, ingredient tambahan agar orang menyukainya. Cocoa yang asli itu tidak manis seperti yang kau kira.
Percayalah, ini, adalah kebalikannya, sesuatu yang kita kira pahit tapi sebenarnya manis. Mungkin orang menyebutnya after taste, manisnya nanti. Sekarang masih sepahit-pahitnya buah mengkudu.
Tahun 2012.
Siang itu kami kuliah di tvst. Bentuk ruangannya sama seperti ruang lainnya di tvst, hanya saja versi mini. Papan tulis hijau di depan, kursi-kursi permanen di sayap kiri, tengah dan kanan. Ya, ruang versi mini, sehingga jumlah kami yang sedikit ini dapat menjejali sayap tengah ruangan.
Ada seorang wanita muda masuk ke ruangan, tas jinjing laptop di tangan kanannya dan dokumen-dokumen di tangan kirinya. Ia berjalan masuk tanpa mengscan isi ruangan, kemudian menuju…. meja dosen. Oh. Dosen.
“Kelas ini dari jurusan apa saja?”, tanya beliau.
“Elektro!”, sahut mahasiswa elektro.
“Fisika!”, sahut mahasiswa fisika.
“Mikrobio!”, sahut mahasiswa mikrobio.
“Meteoro#&(@^#*+=?”:;{}%”, sahut sekelompok mahasiswa. Ternyata sebuah kata yang terdiri dari 6 suku kata itu tidak terdengar jelas oleh sang dosen.
“Apa? metero…? maksudnya geofis…? Aduh. Kalian ini TG atau GM??”
“GM!!!!!!!!!!!!”, sahut mahasiswa meteorologi, serempak, kompak.
mpppfffttt
:))))))))))))))))
kami pun ngikik.

“..Pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam
Redup kilaumu tak mengarah, Jadilah diriku selatan..”
Di selatan, jumlah populasi manusia tak sebanyak di utara. Di selatan, benua cuma ada australia, amerika bagian selatan dan sedikit afrika. Letaknya berjauhan. Sisanya laut. Saintis akan melihat arus hangat di laut itu, bisa pula ocean ridge di dasarnya, atau siklon Iggy di hindia.
Tapi yang kulihat adalah.. sepi.

“Angkasa tanpa pesan, merengkuh semakin dalam…”
“….dan aku terbenam”
Berikut adalah tips-tips untuk memotret model yang bukan model profesional. Tips ini di luar hal-hal teknis ya. Untuk urusan bukaan, speed, white balance, pake lensa apa, blah blah itu udah banyak yang bahas, silakan hubungi oom gugel, oke.
Nah, yang penting adalaaaaah:
Pastikan model merasa nyaman.
that’s it. build the atmosphere.
berikut adalah tips-tips yang bisa digunakan:
1. Minta model membawa benda favoritnya.
Misalnya handphone, buku notes kecil atau agenda, botol minum, pena, boneka, aksesoris, dll. Sesuatu yang ‘dia banget’. Dengan menghadirkan sesuatu yang familiar, model bisa lebih rileks dan bisa menjadi dirinya sendiri.
2. Salam. Senyum. Ajak ngobrol.
Untuk ini, saya bagi model menjadi dua kategori besar (mungkin ada tipe lainnya, but let’s focus on these ones):
- Model-Sudah-Tahu
Maksudnya, model udah tau bagian mana dari dirinya yang bagus untuk difoto, sehingga diapun dengan mudah rileks dan percaya dengan dirinya sendiri.
- Model Pemalu
Intinya adalah gimana caranya untuk bikin si model lupa kalo dia sedang dipotret sehingga ekspresi yang muncul pun lebih natural. Ekspresi itu ngga perlu dibuat-buat kok, karena sesuatu yang muncul dari hati pasti sampai ke hati pula :). Oke, jujur, buat saya pribadi ini adalah poin yang agak susah: ngajak ngobrol model. Ketika saya fokus pada komposisi, momen yang pas, settingan warna yang saya inginkan, di saat yang bersamaan harus menyimak pembicaraan pula (I’m not very good at multitasking, but I always try my best ;_;).
Tapi tenang aja, ini bisa disiasati kok, hehehe.
a) Dengan meminta si model membawa teman dekatnya sehingga mereka bisa asik ngobrol, dan kita pun bisa asik jeprat-jepret. Kalo ngga ada, mungkin bisa pilih alternatif berikutnya:
b) Punya rekan-buat-ngajak-ngobrol-model: entah itu stylist, make up artist, atau bahkan temen lain yang seneng ikut motret-motret. Tapi pastikan mereka orang yang supel ya :P
3. Pasang musik
Supaya suasana lebih menyenangkan! Jadi berasa di video klip :P
4. Tentu saja siapkan konsep dan tema cadangan
5. Have Fun. Enjoy B-)
Biarkan ide-ide fresh mengalir selama pemotretan.
